السبت، 19 يناير، 2013

laporan fiswan konsumsi oksigen pada jangkrik


Nama  : Nengsobarina
Kelas   : 3A
STKIP GARUT
A. Tujuan
            Untuk mengetahui konsumsi oksigen dan mengukur kecepatan metabolisme pada serangga ( jangkrik).
B. Landasan teori
            Bernapas artinya melakukan proses pertukaran gas, yaitu mengambil oksigen (O2) dan mengeluarkan Karbondioksisa (CO2). Oksigen merupakan zat yang sangat penting untuk setiap kehidupan. Berbagai makhluk hidup sangat memerlukan oksigen bagi kelangsungan hidupnya. Bahkan kepompong kupu-kupu yang tampak tidak bergerak juga memerlukan oksigen, sehingga apabila sekelilingnya dilapisi cat, kepompong akan mati. Pertukaran gas O2 dengan CO2 dapat berlangsung melalui proses difusi.
            Proses respirasi pada serangga, sama dengan pada organisme lain, merupakan proses pengambilan oksigen (O2), untuk diproses dalam mitokondria. Baik serangga terestrial maupun akuatik membutuhkan O2 dan membuang CO2, namun pada keduanya terdapat perbedaan jelas: di udara terdapat kurang lebih 20% oksigen, sedang di air 10%. Oleh karenanya kecepatan difusinya juga berbeda, di air 3x lebih kecil daripada kecepatan difusi O2 di udara.
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa sistem trakea, yang terbuat dari pipa yang becabang di seluruh tubuh, merupakan salah satu variasi dari permukaan respirasi internal yang melipat-lipat dan pipa yang terbesar itulah yang disebut trakea. Bagi seekor serangga kecil, proses difusi saja dapat membawa cukup O2 dari udara ke sistem trakea dan membuang cukup CO2 untuk mendukung sistem respirasi seluler. Serangga yang lebih besar dengan kebutuhan energi yang lebih tinggi memventilasi sistem trakeanya dengan pergerakan tubuh berirama (ritmik) yang memampatkan dan mengembungkan pipa udara seperti alat penghembus (Campbell, 2005).
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005). Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + 6O2 → 6 CO2 + 6H2O + ATP
(Tobin, 2005).
C. Alat dan Bahan
-            Respirometer sederhana
-            Neraca elektrik
-            Kristal NaOH/KOH
-            2 ekor Jangkrik (jantan dan betina)
-            Metylen blue
-            Pipet tetes
-            Kapas
-            vaselin

D. Cara kerja
1.      Diambil jangkrik jantan dan betina kemudian ditimbang masing-masing jangkrik sampai mencapai berat yang sama. Yaitu masing-masing 0,71 gr.
2.      Kristal KOH dibungkus dengan kapas kemudian dimasukkan kedalam respirometer sederhana.
3.      Botol respirometer tersebut ditimbang, kemudian dimasukkan jangkrik dan ditimbang kembali. Selisih berat dari kedua botol respirometer tersebut sama dengan berat hewan.
4.      Botol respirometer kemudian ditutup dengan penutup yang memiliki skala ukurnya, kemudian permukaan penutup tersebut diolesi dengan vaselin agar penutupnya rapat dan udara tidak dapat masuk.
5.      Diletakkan botol tersebut secara miring di atas meja, sehingga kedudukan pipet sejajar dengan permukaan meja.
6.      Diteteskan setetes tinta/metylenblue dengan menggunakan pipet tetes kedalam penutup respirometer yang berskala dan diamati laju tinta tersebut.
7.      Dicatat laju tinta pada skala tersebut selama selang waktu 1menit.
8.      Diulangi kegiatan tersebut sebanyak 3x dan dicatat pula laju tintanya tiap selang waktu 1 menit dan dicatat hasilnya.


E. Hasil pengamatan
    Gambar



             Jangkrik jantan                           jangkrik betina       
    Laju tetesan tinta                                       
 


                                                                                                        
          Menit ke-1                                         Menit ke-2
                                                                                                        


            Menit ke-3                                       

    Tabel Pengamatan
Jangkrik jantan
Waktu (Menit)
Jarak
Hasil konsumsi O (ml)
1
69 strip
0,69
2
33 strip
0,33
3
6 strip
0,06
Rata-Rata

0,36

Jangkrik betina
Waktu (Menit)
Jarak
Hasil konsumsi O (ml)
1
33 strip
0,33
2
27 strip
0,27
3
16 strip
0,16
Rata-Rata

0,25





F. Pembahasan  
KLASIFIKASI JANGKRIK
Kingdom     : Animalia
Filum          : Arthropoda
Class           : Insecta
Ordo           : Orthoptea
Famili         : Gryllidae
Genus         : Liogryllus
Spesies       : Liogryllus Sp.
Dalam percobaan ini digunakan Kristal KOH yang berfungsi mengikat CO2 yang berada di dalam tabung respirometer, sehingga pergerakan yang disebabkan dari tinta metylenblue itu benar-benar karena adanya konsumsi oksigen dari jangkrik yang berada didalam tabung tersebut. Adapun reaksi yang terjadi antara KOH dengan CO2 adalah sebagai berikut:
KOH + CO2 → K2CO3 + H2O
            Larutan eosin/metylenblue berfungsi sebagai indikator oksigen yang dihirup oleh organisme (jangkrik) pada repirometer sederhana. Larutan eosin selama percobaan selalu bergerak mendekati botol respirometer sederhana karena organisme dalam percobaan (jangkrik) dalam respirometer dapat menghirup udara O2 melalui pipa sederhana sehingga larutan eosin yang berwarna dapat bergerak.
Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan pernapasan adalah respirometer. Respirometer adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan pernapasan beberapa hewan kecil seperti serangga. Prinsip kerja respirometer adalah alat ini bekerja atas suatu prinsip bahwa dalam pernafasan ada oksigen yang digunakan oleh organisme ada karbondioksida yang dikeluarkan olehnya. Jika organiseme yang bernapas itu disimpan dalam ruang tertutup dan karbondioksida yang dikeluarkan oleh organisme dalam ruang tertutup itu diikat, maka penyusutan udara akan terjadi. Kecepatan penyusutan udara dalam ruang itu dapat di amati pada pipa kapiler berskala.
Seperti hasil yang didapat, jangkrik berukuran lebih panjang (jantan) lebih banyak mengkonsumsi oksigen dilihat dari rata-rata konsumsi oksigen sebesar 0,36 per 3 menit. Sedangkan untuk jangkrik berukuran kecil (betina) mengkonsumsi oksigen sebesar 0,25 per 3 menit. Hal ini membuktikan bahwa ukuran tubuh serta jenis kelamin mempengaruhi laju pernapasan pada hewan. Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi sistem respirasi adalah: berat tubuh, aktivitas tubuh, suhu tubuh, dan usia.
Faktor- faktor yang mempengaruhi laju respirasi:        
1.         Jenis kelamin
Jangkrik jantan dan jangkrik betina  memiliki kecepatan respirasi yang berbeda.
2.  Ketinggian
       Ketinggian mempengaruhi pernapasan. Makin tinggi daratan, makin rendah O2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup serangga. Sebagai akibatnya serangga pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang meningkat.
3. Ketersediaan Oksigen.
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.
G. Pertanyaan dan Jawaban
1. Apa sebabnya dalam botol tersebut disimpan NaOH/KOH kristal, jelaskan!
Jawaban :
Karena Kristal NaOH/KOH dapat mengikat CO2 yang terdapat di dalam botol respirometer tersebut,sehingga Kristal NaOH/KOH tersebut berfungsi Untuk mengikat karbondioksida yang dikeluarkan selama pernapasan oleh serangga.
2. Apa sebabnya tetesan tinta dalam skala bergeser mendekati labu erlenmeyer, jelaskan!
Jawaban :
Karena jangkrik pada botol melalukan pernapasan sehingga tetesan tinta metylenblue yang terdapat pada ppipa skala ikut bergerak.

H. Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa jangkrik jantan yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dan panjang tubuh lebih panjang memerlukan konsumsi oksigen lebih banyak dibandingkan dengan jangkrik betina yang lebih kecil dan pendek. hal ini disebabkan jangkrik jantan lebih banyak mengeluarkan energy karena ukuran tubuhnya yang lebih besar sehingga konsumsi oksigennya pun lebih banyak dibandingkan dengan jangkrik betina.




DAFTAR PUSTAKA
Campbell,dkk. 2005. Biologi Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
Isnaeni, Wiwi. 2006. FisiologiHewan. Yogyakarta: Kanisius.
[Online] (2 januari 2013).







‏ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق